Selasa, 29 November 2016

Resensi Novel Anak Perawan di Sarang Penyamun

Identitas Novel
Judul Novel : Anak Perawan di Sarang Penyamun
Pengarang : Sutan Takdir Alisjahbana
Penerbit : Balai Pustaka / PT. Dian Rakyat - Jakarta
Tahun Terbit : 1941

Sutan Takdir Alisjahbana lahir di Sumatera Utara pada tanggal 11 bulan Februari tahun 1908. Beliau dikenal sebagai seorang tokoh sastrawan dan ahli tata Bahasa Indonesia. STA merupakan salah satu tokoh pembaharu Indonesia yang berpandangan liberal. Selain menjadi ahli tata Bahasa Indonesia, beliau juga menjalankan karir sebagai seorang sastrawan Indonesia yang telah banyak menciptakan dan banyak menulis novel. Beberapa karya novel beliau yang terkenal yaitu, Tak Putus Dirundung Malang (1929), Dian Tak Kunjung Padam (1932), Layar Terkembang (1936), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1941), dan Grotta Azzura (1970 & 1971). Beliau memiliki pemikiran yang cenderung pro-modernisasi dan juga pro-Barat. Beliau sempat berpolemik dengan cendikiawan Indonesia lainnya. Karena menurut beliau, Indonesia haruslah terus maju dan mengejar ketertinggalannya dengan pemikiran yang modernisasi seperti ilmu kebarat-baratan.

Sinopsis
Matahari bersinar di hutan. Onggoan cahaya lulus di celah-celah dedaunan yang rapat dan bermain-main di tanah yang lembab kehitam-hitamam, amat gelisah. Binatang-binatang hutan pun rupanya melepaskan lelah pada tengah hari. Angin berdesir-desir berhembus di pohon dan disana-sini gugur selara yang kering, setelah beberapa lamamnya melayang di udara ditiup angin.
Jauh hampir tiada kedengaran berbunyi kokok ayam beroga, nyaring dan merdu di tengah kesunyian rimba belantara. Selainnya aman dan hening.
Di tengah rimba yang lebat itu mengalir sebuah anak air, jernih dan deras diantara batu-batu besar. Sebelah hilir, sungai kecil itu melintasi tebing dan disana ia jatuh berderai-derai sebagai pecahan kaca, sambil menyerakkan bunyi yang gemuruh.
Sebelah hulu pohon amat rapat dan disitulah berdiri sebuah pondok. Dari jauh ia tiada kelihatan, karena tersembunyi ditengah pohon yang rimbun. Atapnya tersembunyi diantara dahan kayu dan dindingnya yang kelabu kehijau-hijauan, yang hampir tiada nampak di tengah pohon-pohon rimba itu, terbuat daripada susunan kayu besar lengan yang lurus-lurus. Ramuannya sekaliannya kukuh. Seolah-olah ia tempat mempertahankan diri; tiangnya yang kasar-kasar itu setinggi manusia.
Di dalam pondok itu tidur terlintang lima orang laki-laki, sekaliannya kukuh-besar. Lebih dari manusia biasa. Kelima-limanya tiada berbaju, hanya memakai secamping kain sampai hingga pinggang. Dari badan mereka mengalir peluh amat banyak, sebab hari itu tiada terkata-kata panasnya.
Sekonyong-konyong jatuh sepotong ranting ke atas rumah itu. Ranting itu berguling-guling dan jatuh ke tanah.
Seolah-olah berpesawat laki-laki itu serempak melompat bangun. Masing-masing memandang kepada temannya: mereka terkejut mendengar bunyi ranting jatuh itu. Rupanya dalam kehidupan mereka tiap-tiap bunyi, tiap-tiap derak atau derik ada artinya dan harus diperhatikan.
Sesungguhnya mereka itu sekawanan penyamun. Tiap-tiap saudagar dan orang berharta yang lalu diantara Lahat dan tanah Pesemah, tidak pernah dibiarkan mereka berjalan dengan sentosa. Orang perjalanan itu diperiksa dan sekalian yang berharga padanya dirampas mereka. Sering pula terjadi perkelahian yang hebat antara penyamun dan yang disamun dan ketika yang demikian acap terjadi pembunuhan yang ngeri. Sebabnya dalam perjuangan itu tiada kasihan-mengasihani. Kalau terlampau banyak musuh itu dan lengkap pula senjatanya, maka mundurlah kawan penyamun itu, lari sedapat-dapatnya ke hutan memperlindunglan diri. Buka sekali dua mereka luka dan ada kalanya seakan-akam remuklah mereka rasanya kena tikam dan pukul. Tetapi senantiasa mereka mencoba melarikan dirinya, sebab dari pada tertangkap, lebih sukalah raja-raja kesunyian itu mati di hutan, tiada dilihat oleh seorang juapun. Dahulu mereka itu bukan berlima, tetapi bertujuh sekawan. Dalam pertempuran yang hebat dengan serdadu di kaki pegunungan, tewas dua orang teman mereka kena peluru senapan.
Mendasing ialah kepala penyamun berlima itu; kata orang ia kebal, tahan besi dan ada padanya ilmu halimun untuk melenyapkan diri.
Ia berasal dari sebuah dusun yang kecil. Jauh sebelah selatan tanah Pasemah. Dahulu dusun itu ternama kayanya dan pada suatu ketika ia diserang oleh sekawanan penyamun gagah-perkasa. Sekalian penduduk itu melarikan dirinya, masing-masing melindungkan diri sendiri supaya jangan dimusnahkan oleh kumpulan perampok yang kejam itu.
Maka amat mudalah manusia yang buas-buas itu mengambil harta dusun yang kaya itu, karena sekalian penduduknya telah lari berhembalang, tak tentu kemana perginya. Sekalian rumah mereka habis bakar, seakan-akan hendak memuaskan keganasan hati mereka.
Tetapi ketia mereka berhenti seketika melihat ke lidah api yang dahsyat itu berdentam-dentam dan berdetus-detus menjilati rumah, berbunyilah sekonyong-konyong suara seorang anak berteriak.
Tiada berapa lama antaranya keluar diantara rumah yang nyala itu seorang budak, berlari-lari karena ketakutan. Rupanya ketika sekalian isi dusun melarikan dirinya ia tertinggal seorang diri dan karena takut dibinasakan, bersembunyilah ia di suatu tempat yang terlindung. Karena api yang tiada tahu iba-kasihannya itu telah menjalar pula kesana, terpaksalah ia keluar.
Dengan segera ia ditangkap oleh seorang daripada penyamun itu dan melihat matanya yang kemerah-merahan penuh kebuasan dan badannya yang sigap, kukuh tiada terkata-kata. Ketika itu sangkanya akan sudahlah hidupnya. Ia dibawa oleh penyamun itu ke hutan, ke tempat kediaman mereka. Berhari-hari ia berjalan mengikuti kawanan penyamun yang baru merampok itu; badannya letih dan lesu tetapi kalau ia memperlihatkan kepayahan badannya gores-gores dan luka-luka.
Kesudahannya, setelah beberapa hari di jalan tibalah ia ditengah hutan yang lebat, tak tahu ia dimana.
Ketika itu umurnya tukuh tahun dan sejak masa itu iapun menjadi bagian dari kawan perampok yang angkara-murka itu. Penyamun yang membawanya itu senantiasa menjaganya dengan keras dan kejam dan kesalahanna dari kecil sekalipum sering menyebabkan ia disiksa, seakan-akan hendak dibunuh lakunya.
Dengan hal demikianlah ia besar di dalam hutan yang sunyi di tengah perampok itu. Penghidupannya yang berat menyebabkan ia biasa akan sengsara dan kuat bekerja. Udata hitan yang segar seakan-akan menyuburkan badannya. Lambat-laun ia menjadi seorang bujang yang kukuh dan bidang dan masa itulah ia mulai pula menurut pergi menyamun.
Pada suatu saat mendasing dan kawananya hendak merampok harta benda haji sahak , seorang saudagar yang sangat kaya. Haji Sahak hendak pergi ke Palembang dengan membawa semua harta bendanya dan berpuluh-puluna kerbau. Mendasing dan kawanannya sempat mengalami banyak kesulitan dan kegagalan dalam melakukan rencananya, sampai pada suatu kali rencana mereka berhasil untuk merampok Haji Sahak. Kawanannya yang lain menyekap sang istri dan anak perawannya sedangkan Mendasing sedang berperang melawan Haji Sahak sampai pada akhirnya Haji Sahak pun terbunuh oleh Mendasing dengan lembing dan tombak yang amat tajam. Namun, Sayu, si anak perawan itu tidak mereka bunuh dan justru ia dibawa ke sarang penyamun dengan mereka sekalian.
Suatu hari, salah seorang anak buah Mendasing yang bernama Samad kembali ke sarang penyamun. Tugasnya ialah sebagai seorang pengintai. Selama ia berada di sarang penyamum itu, ia malah jatuh hati pada Sayu, karena memang amat cantiklah parasnya sehingga dapat memikat hati lelaki. Secara diam-diam, Samad berniat untuk membawa Sayu keluar dari sarang penyamun itu. Niatnya dibisikannya diam-diam kepada Sayu. Samad berjanji akan membawanya pergi dan mengembalikannya ke orang tuanya.
Pada awalnya Sayu tergoda dan terbujuk oleh janji Samad, tetapi setelah beberapa hari, sayu menangkap gelagat Samad yang tidak baik dan niat awalnya mulai buyar dan ragu. Dan sampai pada hari yang mereka sepakati Sayu dengan tegas menolak ajakan Samad walaupun dengan berat hati. Ia harus tinggal beberapa waktu lagi di sarang penyamun itu.
Setelah kejadian saat merampok Haji Sahak, Mendasing dan kawanannya selalu mendapati kegagalan dalam melaksanakan rencananya, sampai pada akhirnya smua kawanamnya mati terbunuh dan hanya tinggal Mendasing dan Sanip. Suatu kali Sanip juga meninggal saat merampok terakhir kali, anak buah yang sangat disayangi oleh Mendasing. Ternyata dibalik itu semua, Samad yang membocorkan rencana kawanan Mendasing sehingga membuat ia kehilangan semua teman-temannya. Betapa hancurlah hati Mendasing pada saat itu menghadapi duka dan penghianatan oleh salah seorang anak buahnya. Kini hanya tersisa Mendasing dengan Sayu. Sewaktu itu, Mendasing juga mengalami luka parah dan Sayu bingung sekali karena persediaan mereka sudah sangat menipis. Hati nurani Sayu pun tergerak untuk merawat luka-luka Mendasing walau pada awalnya ia sangat takut.
Akan tetapi perasaan takut dan benci itu akhirnya kalah juga oleh perasaannya yang ingin menolong. Ia memberanikan diri untuk mendekati Medasing. Dengan rasa ketakutan dan gemetaran dia mengobati Medasing. Awalnya mereka berdua tidak banyak bicara. Sayu sendiri tidak berani berbicara sebab ia takut pada Medasing. Sedangkan Medasing sendiri memang mempunyai karakter yang pendiam. Selama ini Medasing memang terkenal tidak suka bicara. Dia hanya bicara pada hal-hal yang penting saja. Namun lama-kelamaan antara Sayu dan Medasing kini menjadi akrab. Medasing suka membicarakan pengalaman hidupnya. Dari cerita Medasing tentang bagaimana ia sebelum menjadi seorang penyamun yang sangat ditakuti sekarang ini, Medasing bukanlah keturunan seorang penyamun. Medasing keturunan orang baik-baik.
Setelah melewati hari-hari mereka, Kini sayu mulai mengkhawatirkan bagaimana ia dan Mendasing dapat melanjutkan hidup karena persediaan makanan dalam hutan sudah habis. Oleh karena itu, Sayu mengajak dan membujuk Mendasing agar mau keluar dari persembunyiannya. Karena Mendasing menyadari akan kenyataan itu, akhirnya ia setuju dengan ajakan Sayu. Dan mereka keluar dari hutan menuju kota Pagar Alam. Tapi sampai di rumahnya, Sayu sangat terkejut, sebab rumah itu sekarang bukan milik mereka lagi, tapi sudah menjadi milik orang lain. Menurut pernyataan penghuni baru itu, ibunya sekarang tinggal di pinggiran kampung. Mendengar itu, kedua orang ini langsung pergi menuju ke tempat Nyai Haji Andun. Ternyata Nyai Haji Andun tidak meninggal sewaktu diserang Medasing dan kawanan perampoknya. Dia hanya terluka parah dan sembuh kembali. Sekarang dia tinggal sendirian di ujung kampung dengan keadaan sakit keras. Ia sering mengigau anaknya yang dibawa perampok. Dan pada saat kritis itulah, ibunya akhirnya bisa bertemu dengan anak perawan yang sangat disayanginya. Namun itulah saat terakhir merela berjumpa. Betapa hancurmya hati Sayu, begitu juga dengan Mendasing. Sehingga pada saat itu Mendasing berniat untuk meninggalkan Sayu karena segala hal yang berkecamuk di dalam dirinya.
Sejak saat itu, Medasing berubah total hidupnya. Ia menjadi seorang yang sangat penyayang pada siapa saja. Lima belas tahun kemudian Medasing berangkat ke tanah suci. Sekembalinya dari tanah suci, ramai orang-orang kampung menyambut kedatangannya.
Suatu malam, ketika Haji Karim sedang duduk termenung sambil mengenang masa lalunya yang kelam, tiba-tiba pintu rumahnya ada yang mengetuk. Ternyata orang yang mengetuk pintu itu ialah Samad.

Haji Karim masih mengenali Samad sebab Samad adalah anak buahnya sendiri yang selalau ia beri tugas sebagai pengintai para saudagar yang sedang lewat sebelum dirampok. Haji karim yang tidak lain adalah Medasing itu, mengajak Samad agar bersedia hidup bersamanya. Waktu itu Samad memang tinggal di rumah Haji Karim dan istrinya yang tidak lain adalah Sayu. Namun pada pagi harinya, Mendasing dan sang istri memyadari bahwa Samad meninggalkan rumah mereka secara diam-diam. Samad pergi entah kemana, dan sejak saat itu tidak peenah muncul dan terlihat lagi. Sementara Haji Karim dan keluarganya hidup dengan tentram dan damai di kampung.

Unsur Intrinsik
Tema :
Kisah percintaan, perjalanan hidup, perubahan sikap dari yang buruk menjadi baik.

Tokoh :
Mendasing, Sanip, Amat, Sohan, Samad, Sayu, Haji Sahak, Ibu sayu.

Watak :
Mendasing ialah seorang yang pendiam dan tidak banyak bicara, ia memiliki jiwa kepemimpinan.
Kutipan : Sedangkan Medasing sendiri memang mempunyai karakter yang pendiam. Selama ini Medasing memang terkenal tidak suka bicara. Dia hanya bicara pada hal-hal yang penting saja.

Samad ialah seorang yang berkhianat.
Kutipan : Ternyata dibalik itu semua, Samad yang membocorkan rencana kawanan Mendasing sehingga membuat ia kehilangan semua teman-temannya.

Sayu ialah seorang gadis yang amat cantik parasnya, baik hati dan penolong. Ia juga seorang yang lembut hatinya.
Kutipan : Hati nurani Sayu pun tergerak untuk merawat luka-luka Mendasing walau pada awalnya ia sangat takut.
Akan tetapi perasaan takut dan benci itu akhirnya kalah juga oleh perasaannya yang ingin menolong. Ia memberanikan diri untuk mendekati Medasing. Dengan rasa ketakutan dan gemetaran dia mengobati Medasing.

Latar :
Tempat, Di tengah hutan belantara yang tak lain adalah sarang penyamun, tempat lain di Palembang, kota Pagar Alam.
Suasana, menegangkan dan mencekam.

Alur :
Alur maju, sebab tidak didalami tentang kisah masa lalu, dan perubahan hidup seseorang dari kehidupan yang kelam dan buruk menjadi lebih baik.

Sudut Pandang :
Sudut pandang orang ketiga penulis serba tahu.

Gaya Bahasa :
Memiliki bervariasi gaya bahasa, seperti majas hiperbola, majas personifikasi, majas metafora, dan lain sebagainya.

Unsur Ekstrinsik
Nilai Sosial dan Budaya : Nilai sosial dan nilai budaya yang terkandung dalam novel tersebut sangatlah banyak. Misalnya, pada saat Mendasing dan kawanannya hendak menyamun Haji Sahak, Mendasing dan kawanannya sepakat dan kompak untuk merampok dan membunuh saat sampai di pondok.

Nilai Religius : Nilai religius yang terkandung dalam novel ini juga sangat banyak, salah satu antaranya yaitu, ketika Nyi Hajjah Andun sedang tertidur namun ia terbangun saat subuh karena ia telah terbiasa bangun pada waktu subuh, lalu ia pun bergegas melakukan rutinitasnya yang tak lain adalah sembahyang dan berdoa, walaupun itu hanya ia lakukan sebatas di bibir saja tanpa diresap dalam hatinya.
Lalu pada saat Mendasing dan Istrinya Sayu pergi naik Haji.

Nilai Moral : Nilai moral yang terkandung sangatlah banyak sekali, diantaranya adalah pada saat Mendasing mengalami luka yang cukup parah pada saat perang dengan kawanannya, tapi nahas semua temannya mati terbunuh dan hanya Mendasing yang bertahan, dengan Sayu. Sayu tergerak hatinya untuk mengobati luka-luka Mendasing karena Sayu tak sampai hati melihat kesakitan itu, walaupun Sayu dengan perasaan ragu dan takut untuk mengobati Mendasing.


Kelebihan : Novel Anak Perawan di Sarang Penyamun memiliki banyak sekali kelebihan dan kualitas yang bermutu. Novel tersebut sangat menarik untuk dibaca untuk semua kalangan, remaja maupun orang dewasa. Nilai moral dan sosial dalam novel tersebut sangat kental sehingga dapat memengaruhi pembacanya.

Kekurangan : Novel Anak Perawan di Sarang Penyamun juga memiliki kekurangan karena mengandung banyak unsur kekerasan dan sikap moral yang tidak baik untuk ditiru, yaitu perjalana hidup Mendasing dan kawanannya sebagai penyamun, seperti membunuh, merampok, menyiksa, dan sebagainya.

Kamis, 17 November 2016

Biografi Ki Hadjar Dewantara " Bapak Pendidikan Nasional "



Teladan Hidup Ki Hajar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional, lahir di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 yang awalnya bernama kebangsawan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ketika genap berusia 40 tahun, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara dengan maksud agar Ki Hadjar Dewantara dapat dengan bebas dekat dengan rakyatnya baik secara fisik maupun hatinya. Semenjak saat itu, Ki Hadjar Dewantara tidak lagi menggunakan gelar kebangsawan di depan namanya. Ki Hadjar Dewantara berasal dari lingkungan keluarga Pakualaman, putra dari GPH Soerjaningrat serta cucu dari Pakualaman III dan bertumbuh di lingkungan keluarga Kraton Yogyakarta. Pada tahun 1959, beliau kemudian mempersunting seorang wanita keturunan bangsawan yang mana seorang putri keturunan Pakualaman, Yogyakarta, yang bernama Raden Ajeng Sutartinah atau yang biasa disebut Nyi Sutartinah. Kemudian mereka dikaruniai dua orang anak bernama Ni Sutapi Asti dan Ki Subroto Haryomataram. Selama di pengasingannya, sang istri selalu mendampingi dan membantu segala kegiatan suaminya terutama dalam hal pendidikan.

Pendidikan dan Karir Ki Hadjar Dewantara
            Ki Hadjar Dewantara menamatkan pendidikan Sekolah Dasarnya di ELS yaitu, salah satu Sekolah Dasar yang berada di Belanda. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya ke STOVIA ( Sekolah Dasar Bumiputera ). Tetapi lantaran beliau sakit, sekolah dan pendidikannya tersebut tidak dapat beliau selesaikan. Ki Hadjar Dewantara kemudian bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Detoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai penulis yang handal. Tulisan-tulisan karyanya sangat komunikatif, tajam, dan patriotic sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.
Selain bekerja sebagai seorang wartawan muda, Ki Hadjar Dewantara juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, Ki Hadjar Dewantara aktif di seksi Propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialkan dan menggunggah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara.
Pada Tahun 1908, Ki Hadjar Dewantara aktif sebagai pengurus Boedi Oetomo. Kemudian setelah itu, beliau juga mendirikan organisasi bersama Douwes Dekker atau yang lebih dikenal sebagai Dr. Danudirdja Setya Budhi dan Dr. Cipto Mangoekoesoemo, yaitu sebuah organisasi yang bernama Indische Partij pada tanggal 25 bulan Desember tahun 1912.
Organisasi tersebut merupakan partai politik pertama di Indonesia yang menjunjung rasa nasionalisme untuk Indonesia merdeka. Tetapi partai tersebut ditolak oleh Belanda karena dianggap akan menumbuhkan sikap dan rasa nasionalisme masyarakat, sehingga beliau dijatuhi hukuman pengasingan oleh pemerintah Belanda. Setelah beliau akhirnya terlepas dari hukuman dan pulang dari pengasingan, Ki Hadjar Dewantara pun mendirikan taman siswa. Selama pendirian taman siswa tersebut, banyak sekali masalah , halangan dan rintangan yang akan dihadapi beliau dari pemerintah Belanda. Tetapi oleh karena kegigihannya yang tangguh, akhirnya Ki Hadjar Dewantara berhasil mendirikan taman siswa pada tanggal 3 Juli 1922.

Penghargaan Pemerintah kepada Ki Hadjar Dewantara
          Setelah                     Bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya pada tahun 1945, Presiden Soekarno Hatta kemudian mengangkat Ki Hadjar Dewantara sebagai Menteri Pengajaran Indonesia yang kini dikenal sebagai Menteri Pendidikan, dan kebudayaan Pengajaran Indonesia dalam kabinet pertama Republik Indonesia. Oleh karena jasa-jasanya, beliau kemudian mendapatkan gelar Doktor kehormatan ( Doctor Honoris Causa, Dr.H.C. ) dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1957. Selain itu, beliau juga dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan juga sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno pada saat itu atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan bangsa Indonesia. Pemerintah juga menetapkan tanggal kelahiran beliau yakni tanggal 2 Mei untuk diperingati setiap tahun sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hadjar Dewantara dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional serta beliau juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional berdasarkan surat keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959 tertanggal 28 November 1959.

Wafatnya Ki Hadjar Dewantara
            Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa, tepatnya pada tanggal 28 April, Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia di Yogyakarta.
Kini, nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabdikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan ( Bapak Pendidikan Nasional ), tetapi juga sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional. Beliau juga memberi ajarannya yakni, Tut Wuri Handayani yang berarti, di belakang memberi dorongan. Ing madya mangun karsa yang berarti, di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa, serta ing ngarsa sungtulada yang berarti, di depan memberi teladan. Ajarannya tersebut akan selalu menjadi dasar pendidikan di Indonesia. Untuk mengenang jasa-jasa Ki Hadjar Dewantara, pihak penerus perguruan Taman Siswa mendirikan Museum Dewantara Kirti Griya yang berada di Yogyakarta.
Dalam Museum ini terdapat peninggalan benda atau karya-karya Ki Hadjar Dewantara sebagai pendiri Taman Siswa serta kiprahnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Koleksi yang ada dalam Museum itu, terdapat sekumpulan karya-karya yang berupa karya tulis atau konsep serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar Dewantara sebagai jurnalis, budayawan, pendidik, dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan diabdikan atas bantuan Badan Arsap Nasional. Koleksi-koleksi dalam Museum tersebut bertujuan untuk menunjukkan dan melestarikan nilai-nilai semangat juang Ki Hadjar Dewantara pada masanya.
Semoga segala jasa-jasa beliau dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara dapat terus diabdikan dan dijalankan sebagaimana kita generasi muda yang memiliki kesadaran dalam memajukan negara serta menciptakan generasi muda yang memiliki nilai semangat juang yang membara.