Kamis, 17 November 2016

Biografi Ki Hadjar Dewantara " Bapak Pendidikan Nasional "



Teladan Hidup Ki Hajar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional, lahir di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 yang awalnya bernama kebangsawan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ketika genap berusia 40 tahun, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara dengan maksud agar Ki Hadjar Dewantara dapat dengan bebas dekat dengan rakyatnya baik secara fisik maupun hatinya. Semenjak saat itu, Ki Hadjar Dewantara tidak lagi menggunakan gelar kebangsawan di depan namanya. Ki Hadjar Dewantara berasal dari lingkungan keluarga Pakualaman, putra dari GPH Soerjaningrat serta cucu dari Pakualaman III dan bertumbuh di lingkungan keluarga Kraton Yogyakarta. Pada tahun 1959, beliau kemudian mempersunting seorang wanita keturunan bangsawan yang mana seorang putri keturunan Pakualaman, Yogyakarta, yang bernama Raden Ajeng Sutartinah atau yang biasa disebut Nyi Sutartinah. Kemudian mereka dikaruniai dua orang anak bernama Ni Sutapi Asti dan Ki Subroto Haryomataram. Selama di pengasingannya, sang istri selalu mendampingi dan membantu segala kegiatan suaminya terutama dalam hal pendidikan.

Pendidikan dan Karir Ki Hadjar Dewantara
            Ki Hadjar Dewantara menamatkan pendidikan Sekolah Dasarnya di ELS yaitu, salah satu Sekolah Dasar yang berada di Belanda. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya ke STOVIA ( Sekolah Dasar Bumiputera ). Tetapi lantaran beliau sakit, sekolah dan pendidikannya tersebut tidak dapat beliau selesaikan. Ki Hadjar Dewantara kemudian bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Detoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai penulis yang handal. Tulisan-tulisan karyanya sangat komunikatif, tajam, dan patriotic sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.
Selain bekerja sebagai seorang wartawan muda, Ki Hadjar Dewantara juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, Ki Hadjar Dewantara aktif di seksi Propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialkan dan menggunggah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara.
Pada Tahun 1908, Ki Hadjar Dewantara aktif sebagai pengurus Boedi Oetomo. Kemudian setelah itu, beliau juga mendirikan organisasi bersama Douwes Dekker atau yang lebih dikenal sebagai Dr. Danudirdja Setya Budhi dan Dr. Cipto Mangoekoesoemo, yaitu sebuah organisasi yang bernama Indische Partij pada tanggal 25 bulan Desember tahun 1912.
Organisasi tersebut merupakan partai politik pertama di Indonesia yang menjunjung rasa nasionalisme untuk Indonesia merdeka. Tetapi partai tersebut ditolak oleh Belanda karena dianggap akan menumbuhkan sikap dan rasa nasionalisme masyarakat, sehingga beliau dijatuhi hukuman pengasingan oleh pemerintah Belanda. Setelah beliau akhirnya terlepas dari hukuman dan pulang dari pengasingan, Ki Hadjar Dewantara pun mendirikan taman siswa. Selama pendirian taman siswa tersebut, banyak sekali masalah , halangan dan rintangan yang akan dihadapi beliau dari pemerintah Belanda. Tetapi oleh karena kegigihannya yang tangguh, akhirnya Ki Hadjar Dewantara berhasil mendirikan taman siswa pada tanggal 3 Juli 1922.

Penghargaan Pemerintah kepada Ki Hadjar Dewantara
          Setelah                     Bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya pada tahun 1945, Presiden Soekarno Hatta kemudian mengangkat Ki Hadjar Dewantara sebagai Menteri Pengajaran Indonesia yang kini dikenal sebagai Menteri Pendidikan, dan kebudayaan Pengajaran Indonesia dalam kabinet pertama Republik Indonesia. Oleh karena jasa-jasanya, beliau kemudian mendapatkan gelar Doktor kehormatan ( Doctor Honoris Causa, Dr.H.C. ) dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1957. Selain itu, beliau juga dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan juga sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno pada saat itu atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan bangsa Indonesia. Pemerintah juga menetapkan tanggal kelahiran beliau yakni tanggal 2 Mei untuk diperingati setiap tahun sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hadjar Dewantara dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional serta beliau juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional berdasarkan surat keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959 tertanggal 28 November 1959.

Wafatnya Ki Hadjar Dewantara
            Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa, tepatnya pada tanggal 28 April, Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia di Yogyakarta.
Kini, nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabdikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan ( Bapak Pendidikan Nasional ), tetapi juga sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional. Beliau juga memberi ajarannya yakni, Tut Wuri Handayani yang berarti, di belakang memberi dorongan. Ing madya mangun karsa yang berarti, di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa, serta ing ngarsa sungtulada yang berarti, di depan memberi teladan. Ajarannya tersebut akan selalu menjadi dasar pendidikan di Indonesia. Untuk mengenang jasa-jasa Ki Hadjar Dewantara, pihak penerus perguruan Taman Siswa mendirikan Museum Dewantara Kirti Griya yang berada di Yogyakarta.
Dalam Museum ini terdapat peninggalan benda atau karya-karya Ki Hadjar Dewantara sebagai pendiri Taman Siswa serta kiprahnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Koleksi yang ada dalam Museum itu, terdapat sekumpulan karya-karya yang berupa karya tulis atau konsep serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar Dewantara sebagai jurnalis, budayawan, pendidik, dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan diabdikan atas bantuan Badan Arsap Nasional. Koleksi-koleksi dalam Museum tersebut bertujuan untuk menunjukkan dan melestarikan nilai-nilai semangat juang Ki Hadjar Dewantara pada masanya.
Semoga segala jasa-jasa beliau dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara dapat terus diabdikan dan dijalankan sebagaimana kita generasi muda yang memiliki kesadaran dalam memajukan negara serta menciptakan generasi muda yang memiliki nilai semangat juang yang membara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar